Perushaan Ritel Harus Mampu Bersaing Dengan Toko Online

Salah satu perusahaan ritel di Indonesia yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk mengalami penurunana laba secara relevan mencapai 85.84%.

Dari data laporan keuangan Sumber Alfaria Trijaya kuartal III ini, pendapatan neto tercatat naik 10,23 persen menjadi Rp 45,61 triliun dibanding realisasi Rp 41,37 triliun di kuartal III-2016. Sementara laba periode berjalan anjlok 85,84 persen dari Rp 337,49 miliar menjadi Rp 47,78 miliar.

Kondisi tersebut, diakuinya bukan karena terdampak maraknya bisnis online. Hans menilai, pengaruh e-commerce terhadap bisnis Fast Moving Consumer Goods (FMCG) belum begitu besar.

“Jadi bukan karena e-commerce ada penurunan laba, tapi lebih kepada ekspektasi penjualan tidak tercapai dan susah improve marjin. Ke depan tidak tahu bagaimana perkembangan e-commerce, kami antisipasi saja,” terangnya.

Antisipasi pertama, dia menyebut, mengubah model bisnis Alfacart dengan menggandeng perusahaan e-commerce, seperti Lazada, dan lainnya. Alfacart merupakan toko belanja online di bawah Sumber Alfaria Trijaya.

“Kita reposisi Alfacart, kalau dulu jalan sendiri, kini bekerja sama dengan e-commerce seperti Lazada. Kekuatan kita kan di grosir, jadi lebih baik kerja sama dibanding bikin e-commerce sendiri,” terangnya. Baca Juga : ASEAN  Jadi Pasar yang Menggiurkan bagi Bisnis E-Commerce

Menurut Hans, kontribusi grosir pada perdagangan e-commerce baru Rp 1,5 triliun dari total bisnis yang mencapai nilai Rp 450 triliun. “Jadi masih kecil, dan kita mau ambil peluang itu,” ucapnya.

Kinerja keuangan yang cukup tertekan di kuartal III ini, diakui Hans mendorong perusahaan untuk lebih efisien. Akan tetapi tidak berarti stop ekspansi.

“PR kita harus lebih efisien, tapi ekspansi masih tetap. Tahun ini kan 1.150 gerai, dan tahun depan 800 toko di Indonesia. Total toko sampai dengan saat ini berjumlah lebih dari 13.400 gerai,” jelas Hans.

Ditemui di lokasi yang sama, Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mengatakan ada pergeseran atau perubahan gaya hidup masyarakat di Indonesia dan dunia. Konsumsi masyarakat, sambungnya, lebih kepada jalan-jalan (leisure), makan, minum.

“Pergeseran gaya hidup, tidak belanja lagi barang di luar kebutuhan tapi saving untuk leisure, makan,” dia menerangkan.

Oleh karenanya, Mendag mengimbau agar pemain ritel modern lebih berinovasi mulai mendekatkan diri dengan masyarakat, seperti yang dilakukan Alfamart. Alasannya, perilaku masyarakat saat ini cenderung malas untuk pergi berbelanja ke luar.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*