Kemunculan Toko Online Menurunkan Omzet dari Toko/Retailer Offline

Penetrasi dan agresivitas e-Commerce berbanding lurus dengan jumlah pengguna Internet di Indonesia. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta.

Belanja online memang bukan tren jual-beli yang baru muncul.  Namun dengan adanya inovasi toko online berbasis aplikasi–Tokopedia, Bukalapak, Lazada dan lain-lain–terbukti sangat efektif karena di Indonesia pembelian barang-barang melalui e-Commerce terus naik.

Dalam siaran pers, Selasa (27/2/2018), menurut data Google & Temasek pada 2017, pembelian produk via e-Commerce di Indonesia mencapai US$ 10,9 miliar atau sekitar Rp 146,7 triliun, meroket 41 persen dari angka US$ 5,5 miliar atau sekitar Rp 74 triliun pada 2015.

Dalam konteks kemunculan e-Commerce sebagai bentuk bisnis online di Indonesia tentu juga berkaitan dengan persaingan bisnis offline atau toko-toko yang menjual segala keperluan masyarakat secara konvensional, baik itu elektronik, kebutuhan sandang maupun obat, dan produk kecantikan.

Baca Juga :  Strategi PT Pos Indonesia Dalam Permasalahan Logistik

Secara umum, tampaknya masyarakat juga akan berpandangan bahwa adanya e-Commerce akan menurunkan omzet dari toko/retailer offline, karena terbukti mulai adanya perusahaan berbasis offline yang gulung tikar di Indonesia.

Pada September 2017, gerai Matahari Department Store yang berada di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai ditutup karena sepi pembeli.

Pada Oktober 2017, pelaku bisnis ritel PT Mitra Adiperkasa menutup tiga gerai Lotus Department Store di Thamrin, Cibubur, dan Bekasi, menyusul dua gerai yang telah ditutup sebelumnya. Dua toko Hypermart dan enam gerai Ramayana pun terpaksa gulung tikar di tahun yang sama.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*