E-commerce Tak Ingin Matikan Yang Konvensional

Satu per satu gerai atau toko ritel lokal maupun asing tumbang. Beberapa perusahaan pun di ambang kebangkrutan. Mulai dari 7-Eleven Matahari Departement Store Nyonya Meneer sampai yang terbaru raksasa ritel mainan global Toys “R” Us yang terlilit tumpukan utang.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mendesain Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait e-commerce. Menurut Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, hal itu memang diperlukan. Selain untuk meningkatkan penerimaan pajak juga untuk menjaga iklim berusaha.

Kepala BKF Suahasil Nazara menyatakan bahwa antara usaha konvensional dan usaha berbasis online harus sama-sama taat membayar pajak. Namun saat ini aturan soal pajak perdagangan online (e-commerce) belum ada landasannya. toko online tumbuh subur karena didukung berbagai faktor di antaranya biaya internet yang murah penetrasi ponsel pintar (smartphone) yang cukup tinggi di masyarakat sistem logistik yang semakin andal sistem pembayaran terpercaya.

Sementara Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah menilai ekonomi dunia saat ini berada pada fase transformasi bisnis yang cukup radikal. Transformasi ini mengarah pada teknologi yang membawa perubahan besar sehingga fenomena runtuhnya bisnis konvensional terjadi di dalam maupun luar negeri. “Faktor-faktor ini yang meningkatkan transaksi e-commerce. Bahkan ada yang menyebut e-commerce kita akan mendominasi penjualan ritel pada periode 2030,” ucap mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa pemerintah tengah menggenjot penerimaan negara yang bersumber dari pajak, salah satunya lewat aturan pajak e-commerce yang tengah dalam proses pendesainan. Namun kata dia yang utama adalah bagaimana menciptakan persaingan usaha yang sehat.

“Kalau di sana bayar PPN (pajak pertambahan nilai), di sini juga bayar PPN. Lebih ke level playing field. Kita tidak ingin e-commerce itu muncul dan matikan yang konvensional. Tata caranya mesti dirumuskan,” ujarnya. Prospek industri e-commerce pun tampaknya semakin menunjukkan pertumbuhan yang positif. Jika industri ini tumbuh besar pemerintah merasa perlu untuk mengaturnya khususnya dari sisi perpajakan.

“Saya rasa online dengan semakin lama semakin besar tentu perlu diatur. Teman-teman yang berjualan secara online punya e-commerce, harus juga mengatakan bahwa kami taat pajak,” tandas Suahasil¬†Nazara

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*